Nama saya Dita.
Saya lahir di Surabaya.
Sebagai anak pertama, kedua orangtuaku sangat menyayangiku. Namun karena bapak
tidak mempunyai pekerjaaan tetap, saya terpaksa dititipkan pada nenek di sebuah desa kecil. Lulus Sekolah
Dasar saya kembali lagi ke Surabaya
untuk meneruskan SMP. Pola hidup di desa
membangun watakku untuk selalu bersikap ramah terhadap orang yang saya temui,
termasuk terhadap teman- teman sebayaku. Sikapku yang ramah dan santun terhadap
semua orang membuatku menjadi banyak teman.
Sejak duduk di
kelas I SMP, saya sudah mempunyai teman dekat di kelas III, sebut saja namanya
Dewi. Dia sangat baik, semua yang dia miliki sering dia bagikan pada saya
sekalipun saya tidak menghendakinya. Saya sudah menganggapnya sebagai kakakku
sehingga kalau dia mengajak kemana pun, saya pasti mau. Suatu hari sepulang sekolah, dia mengajakku untuk
jalan-jalan keliling kota naik mobil. Dia mengatakan padaku bahwa yang punya
mobil adalah pamannya dan saya pun percaya. Saya tidak menaruh curiga ketika
mobil mengarah keluar kota dan pada saat itu juga dia katakan kalau dia harus
menemui saudaranya yang ada diluar kota.
Di kota kecil dengan udara sejuk kami berhenti di
sebuah villa. Dewi meminta masuk dan mandi sebentar karena akan diajak makan.
Saya menuruti saja permintaannya. Awalnya saya agak bingung karena kamar mandi
yang ditunjuk tidak ada pintunya tetapi hanya ditutupi gorden tipis dari bahan
plastik tembus pandang. Namun karena saya tahu kalau yang ada di kamar hanya
kami berdua, saya pun melepaskan pakaian dan mandi. Tanpa sepengetahuanku pintu
kamar kami di buka dari luar. Laki-kali yang tadinya mengaku sebagai pamannya Dewi,
menyingkap gorden merangkulku sekenanya. Sementara itu saya terus meronta
memanggil Dewi, namun dia diam saja.
Lolos dari kamar mandi, saya lari ke kamar tidur
mendekati Dewi namun sebaliknya, dia diam
dan berusaha menghindari pelukanku. Saya gemetar ketakutan tapi tangan
kasar laki-laki tersebut menangkapku dan menyeretku ke atas kasur. Laki-laki itu memaksaku, menindih
tubuhku. Saya berteriak sambil terus berusaha menutupi bagian tubuhku dengan
dengan bantal, namun sia-sia juga karena laki-laki itu lebih sigap dan
tenaganya amat kuat. Usai melampiaskan keinginannya, laki-laki itu mengucapkan
terimakasi kepadaku dan juga pada Dewi temanku.
Saya menangis dan mengatakan kalau saya akan
melaporkan kejadian tersebut kepada kedua orangtuaku. Dengan enteng Dewi
mengatakan tidak apa-apa, dan dia juga akan menceritakannya juga pada
teman-teman satu sekolah dan juga kepada guru. Lalu dia balik bertanya pada
saya, kalau semua orang sudah tahu, siapa yang akan menanggung malu? Saya
terkejut karena rencana saya malah menjadi bumerang bagi saya sendiri. Saya
menangis sejadi-jadinya tapi mereka tidak mempedulikanku.
Karena hari sudah sore, saya minta supaya pulang,
namun keduanya tidak mempedulikanku. Malam itu saya tidak bisa tidur selain
karena sakit, saya pun jijik melihat laki-laki perilaku seksual yang mereka
perlihatkan pada saya. Pagi-pagi sekali kami sudah pulang ke Surabaya dengan
merasa tidak punya beban, laki-laki itu mengatarkan kami ke sekolah. Saya tidak
bisa mengikuti pelajaran dengan baik karena konsentrasiku terganggu memikirkan
kejadian yang telah menimpahku. Di rumah kedua orangtuaku gelisah menunggu
kedatanganku.
Pada orangtua , saya katakan ada tugas belajar
kelompok, maunya pulang tapi karena sudah malam dan tidak ada ongkos pulang,
terpaksa saya menginap di rumah temanku. Kedua orangtuaku memarahiku dan
mengatakan akan mengeluarkan dari sekolah kalau saya melakukan hal yang sama
lagi. Rasa sakit dan sedih tidak saya perlihatkan pada kedua orangtuaku. Saya
berusaha untuk tampil sewajarnya. Kepada ibu saya katakan kalau saya mengalami
menstruasi, ibuku tertawa ketika melihat
saya kelihatan gelisah.
Di sekolah saya menjadi pemurung, menjauhi
teman-teman yang dulunya adalah sangat akrab. Sekuat tenaga saya berusaha
menghindari pertemuan dengan Dewi, namun dia tetap saja mendekatiku. Dia
mengancamku dengan mengatakan kalau saya tetap menghindar untuk bertemu
dengannya dia akan menceritakan pada semua orang bahwa saya pernah melakukan
hubungan seksual. Kepada kedua orangtuaku saya katakan niat saya untuk pindah
sekolah namun orangtuaku melarang dengan berbagai alasan. Saya tetap sekolah di
sekolah yang sama dengan Dewi.
Takut akan ancamannya, saya pun harus menerima
ajakan-ajakan berikutnya. Kalau sebelumnya dia mengenalkan laki-laki yang
membawa kami sebagai pamannya, kini dia sudah mengatakan terus terang.
Laki-laki yang mengajak kami adalah orang yang sudah memberikan sejumlah uang kepadanya.
Saya dijual kepada laki-laki satu ke laki-laki lainnya. Pada saat ujian
akhir saya berdoa semoga dia lulus namun ternyata dia tidak lulus. Dia sudah
berani datang kerumahku bila ada laki-laki yang menghendakiku. Setiap ada uang
dari laki-laki yang meniduriku dibagi dua setelah dipotong pengeluaran makan
dan transport.
Di usia tujuh belas tahun, saya hamil sehingga
saya harus berhenti sekolah. Berbeda dengan sebelumnya, setelah dia tahu saya
hamil dia sudah tidak pernah datang lagi. Karena malu dengan orang sekampung
saya diminta menikah dengan laki-laki sudah menjadi langganan saya. Pekawinan
kami hanya bertahan 3 bulan karena setelah anakku lahir, laki-laki itu sudah
tidak pernah datang lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar