Jumat, 12 September 2014

Aku Perempuan

Courtesy to Fineart America
Perempuan itu seperti orang yang kau temukan saat ini, tidak lebih dari itu! Diawal perkenalan, aku sudah memberikan identitasku, menyuguhkan senyum sebagai tanda bahwa aku bisa menerimamu sebagai teman ngobrol, sebagai sahabat. Dan seperti perempuan lainnya, kami tidak bisa dengan mudah mengadaptasi tatapan mata dari laki-laki yang menikam seakan menyelidiki kekurangan yang kami miliki. Aku merunduk seperti ini dan aku merasa nyaman, aku membutuhkan perasaan ini karena kau adalah orang baru,  belum ada memori dalam benakku yang menggambarkan bahwa kamu adalah  orang baik atau jahat? 
Malam ini lebih sepi dari malam-malam sebelumnya, mbak Irma, perempuan perkasa yang biasa duduk di atas kuburan sudah pergi entah kemana? apakah mungkin dia mendapatkan orderan untuk melayani hidung belang berkantong tebal? ataukah? ah, tidak! Semoga saja tidak! aku tidak mau membayangkan hal buruk terjadi padanya. Tidak mungkin Petugas Satpol sudah menangkapnya, membawanya ke tempat penampungan untuk kemudian dikumpulkan dengan Pekerja seks lainnya atau pun orang-orang yang tidak mempunyai identitas. Luka-luka di tangan dan kakinya  masih sering mengeluarkan darah segar! luka akibat jatuh menghindari  kejaran petugas yang melakukan razia tiga hari yang lalu. Sungguh aku mengkuatirkan mbak Irma, mengkuatirkan orang-orang di sekitarnya, mereka yang berbaik hati, yang mau membantu mengobati lukanya? luka dari orang yang sudah terinfeksi HIV?  Tidak! aku tidak mau memikirkan hal ini, karena aku  percaya Irma adalah perempuan perkasa! Kondisi fisiknya di atas rata-rata, gesit bagaikan anak rusa, dia mempunyai kepekaan luar biasa dalam menghindari bahaya! Artinya dia sekarang dalam keadaan aman!
Dalam diamku, aku mengejar bayang-bayang Irma, aku lupa bahwa saat ini aku tengah duduk bersanding dengan seorang pria asing! Aku dan laki-laki ini bermain dengan pikiran kami masing masing! Aku tidak tahu apa yang ada dalam benaknya, namun ketika tangannya menyentuh pundakku seketika itu pula lamunanku hilang. Aku tidak lagi berpikir tentang segala kemungkinan yang terjadi padanya atau kondom yang harus aku berikan pada mbak Irma. Aku harus mencari siasat untuk menghindari tangan usil dari pria berwajah ramah ini. Secara perlahan aku melepaskan  tangannya dari pundakku lalu bergeser sedikit posisi dudukku, untuk memperlebar jarak antara aku dan dia!
Pendidikan dan nilai budaya telah membesarkan naluriku untuk bersikap ramah pada sesama namun tetap menjaga norma dan martabatku sebagai perempuan. Engkau laki-laki asing, aku tidak mempunyai ikatan psikologis denganmu sehingga aku harus berdiri dan pergi! Percayalah padaku bahwa  perempuan hanya mampu bermesraan pada seorang laki-laki yang dia cintai, pada laik-laki yang mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan serta kasih sayang yang berkelanjutan. Terima kasih laki-laki asing engkau telah menemani pekerjaanku dalam  meningkatkan derajat kesehatan perempuan-perempuan yang melayani seks hidung belang di atas area pemakaman!

Selasa, 26 Agustus 2014

P E R E M P U A N di Mimpi Rasti

Perempuan ciptaan Tuhan yang paling Istimewa. Walau pada akhirnya Perempuan merasa tersakiti, merasa terhakimi,Perempuan akan mapu bertahan karena Kodrat yang dianugerahkan Tuhan begitu Istimewa dan tidak dimiliki oleh laki laki mana pun didunia ini. 

Hamil dan Melahirkan adalah perjuangan hidup dan matimu
Rasa Kasih dan Kelembutan, hanya engkau yang memiliki
Ketegaran dalam mengarungi bahtera kehidupan hanyalah milikmu
Cinta Kasih setulus hati, hanya engkau yang memiliki

Ketulusanmu tidak pernah menghitung pamrih

Perempuan, Tingginya kodratmu diciptakan Tuhan untuk menjadi Tiang dalam hidup para laki laki.

Salam Kasih Kepada setiap Perempuan yang membaca tulisan ini.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Pengakuan seorang anak yang di jual oleh sahabatnya

Nama saya Dita. Saya lahir di Surabaya. Sebagai anak pertama, kedua orangtuaku sangat menyayangiku. Namun karena bapak tidak mempunyai pekerjaaan tetap, saya terpaksa dititipkan pada  nenek di sebuah desa kecil. Lulus Sekolah Dasar saya kembali lagi ke Surabaya untuk meneruskan SMP.  Pola hidup di desa membangun watakku untuk selalu bersikap ramah terhadap orang yang saya temui, termasuk terhadap teman- teman sebayaku. Sikapku yang ramah dan santun terhadap semua orang membuatku menjadi banyak teman.
Sejak duduk di kelas I SMP, saya sudah mempunyai teman dekat di kelas III, sebut saja namanya Dewi. Dia sangat baik, semua yang dia miliki sering dia bagikan pada saya sekalipun saya tidak menghendakinya. Saya sudah menganggapnya sebagai kakakku sehingga kalau dia mengajak kemana pun, saya pasti mau. Suatu hari sepulang sekolah, dia mengajakku untuk jalan-jalan keliling kota naik mobil. Dia mengatakan padaku bahwa yang punya mobil adalah pamannya dan saya pun percaya. Saya tidak menaruh curiga ketika mobil mengarah keluar kota dan pada saat itu juga dia katakan kalau dia harus menemui saudaranya yang ada diluar kota.
Di kota kecil dengan udara sejuk kami berhenti di sebuah villa. Dewi meminta masuk dan mandi sebentar karena akan diajak makan. Saya menuruti saja permintaannya. Awalnya saya agak bingung karena kamar mandi yang ditunjuk tidak ada pintunya tetapi hanya ditutupi gorden tipis dari bahan plastik tembus pandang. Namun karena saya tahu kalau yang ada di kamar hanya kami berdua, saya pun melepaskan pakaian dan mandi. Tanpa sepengetahuanku pintu kamar kami di buka dari luar. Laki-kali yang tadinya mengaku sebagai pamannya Dewi, menyingkap gorden merangkulku sekenanya. Sementara itu saya terus meronta memanggil Dewi, namun dia diam saja.
Lolos dari kamar mandi, saya lari ke kamar tidur mendekati Dewi namun sebaliknya, dia diam  dan berusaha menghindari pelukanku. Saya gemetar ketakutan tapi tangan kasar laki-laki tersebut menangkapku dan menyeretku ke atas  kasur. Laki-laki itu memaksaku, menindih tubuhku. Saya berteriak sambil terus berusaha menutupi bagian tubuhku dengan dengan bantal, namun sia-sia juga karena laki-laki itu lebih sigap dan tenaganya amat kuat. Usai melampiaskan keinginannya, laki-laki itu mengucapkan terimakasi kepadaku dan juga pada Dewi temanku.
Saya menangis dan mengatakan kalau saya akan melaporkan kejadian tersebut kepada kedua orangtuaku. Dengan enteng Dewi mengatakan tidak apa-apa, dan dia juga akan menceritakannya juga pada teman-teman satu sekolah dan juga kepada guru. Lalu dia balik bertanya pada saya, kalau semua orang sudah tahu, siapa yang akan menanggung malu? Saya terkejut karena rencana saya malah menjadi bumerang bagi saya sendiri. Saya menangis sejadi-jadinya tapi mereka tidak mempedulikanku.
Karena hari sudah sore, saya minta supaya pulang, namun keduanya tidak mempedulikanku. Malam itu saya tidak bisa tidur selain karena sakit, saya pun jijik melihat laki-laki perilaku seksual yang mereka perlihatkan pada saya. Pagi-pagi sekali kami sudah pulang ke Surabaya dengan merasa tidak punya beban, laki-laki itu mengatarkan kami ke sekolah. Saya tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik karena konsentrasiku terganggu memikirkan kejadian yang telah menimpahku. Di rumah kedua orangtuaku gelisah menunggu kedatanganku.
Pada orangtua , saya katakan ada tugas belajar kelompok, maunya pulang tapi karena sudah malam dan tidak ada ongkos pulang, terpaksa saya menginap di rumah temanku. Kedua orangtuaku memarahiku dan mengatakan akan mengeluarkan dari sekolah kalau saya melakukan hal yang sama lagi. Rasa sakit dan sedih tidak saya perlihatkan pada kedua orangtuaku. Saya berusaha untuk tampil sewajarnya. Kepada ibu saya katakan kalau saya mengalami menstruasi, ibuku  tertawa ketika melihat saya kelihatan gelisah.
Di sekolah saya menjadi pemurung, menjauhi teman-teman yang dulunya adalah sangat akrab. Sekuat tenaga saya berusaha menghindari pertemuan dengan Dewi, namun dia tetap saja mendekatiku. Dia mengancamku dengan mengatakan kalau saya tetap menghindar untuk bertemu dengannya dia akan menceritakan pada semua orang bahwa saya pernah melakukan hubungan seksual. Kepada kedua orangtuaku saya katakan niat saya untuk pindah sekolah namun orangtuaku melarang dengan berbagai alasan. Saya tetap sekolah di sekolah yang sama dengan Dewi.
Takut akan ancamannya, saya pun harus menerima ajakan-ajakan berikutnya. Kalau sebelumnya dia mengenalkan laki-laki yang membawa kami sebagai pamannya, kini dia sudah mengatakan terus terang. Laki-laki yang mengajak kami adalah orang yang sudah memberikan sejumlah uang kepadanya. Saya dijual kepada  laki-laki  satu ke laki-laki lainnya. Pada saat ujian akhir saya berdoa semoga dia lulus namun ternyata dia tidak lulus. Dia sudah berani datang kerumahku bila ada laki-laki yang menghendakiku. Setiap ada uang dari laki-laki yang meniduriku dibagi dua setelah dipotong pengeluaran makan dan transport.
Di usia tujuh belas tahun, saya hamil sehingga saya harus berhenti sekolah. Berbeda dengan sebelumnya, setelah dia tahu saya hamil dia sudah tidak pernah datang lagi. Karena malu dengan orang sekampung saya diminta menikah dengan laki-laki sudah menjadi langganan saya. Pekawinan kami hanya bertahan 3 bulan karena setelah anakku lahir, laki-laki itu sudah tidak pernah datang lagi.

Rabu, 20 Agustus 2014

Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today...

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace...

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world...

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one

Selasa, 19 Agustus 2014

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I'll cross the stream, I have a dream
I have a dream, a fantasy

To help me through reality
And my destination makes it worth the while
Pushing through the darkness still another mile

I believe in angels
Something good in everything I see

I believe in angels
When I know the time is right for me

I'll cross the stream, I have a dream
I'll cross the stream, I have a dream

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

I believe in angels
Something good in everything I see

I believe in angels
When I know the time is right for me
I'll cross the stream, I have a dream
I'll cross the stream, I have a dream